Sejarahnya, lompat batu tersebut merupakan ritual pendewasaan pemuda Suku Nias. Jika pemuda Nias berhasil melompati batu yang setinggi 2,2 meter itu, mereka dianggap telah menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah.

Mereka mencoba mempersiapkan diri untuk melakukan tradisi lompat batu atau Fohombo batu ini sejak usia 10 tahun, anak laki-laki harus bersiap untuk melakukan giliran "Fahombo". Ritual Fahombo ini sangat dianggap serius dalam adat dan kebudayaan di Kepulauan Nias.

Kemudian, pemuda Nias itu menggunakan busana pejuang suku Nias. Mereka harus dapat melompati batu tersebut untuk mendapatkan status kedewasaan. Jika berhasil melompati batu itu, berarti telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab sebagai laki-laki dewasa di Nias.

Baca juga: Mendesak, Pemkab Bakal Kirim Berkas TKL Gelombang Satu

Selain itu, ketika berkunjung di tempat wisata tradisional yang merupakan Hombo Batu itu, diharuskan mengucapkan pertama, Yaahowu sebagai kata pembuka untuk mengawali pembicaraan. Yaahowu itu, sering digunakan sebagai salam tegur sapaan oleh masyarakat suku Nias (Ono Niha).