Untuk mendorong hal itu, UHO menggelontorkan beragam program, mulai dari pendanaan riset internal, insentif publikasi di jurnal ilmiah, paten dan produk teknologi, hingga KKN Tematik berbasis hasil penelitian dosen.

Menurut Nyoman, dukungan rektor sejak lama menjadi kunci lahirnya banyak inovasi. Langkah ini sejalan dengan visi UHO menjadi perguruan tinggi kelas dunia dalam pengelolaan wilayah pesisir, kelautan, dan perdesaan pada 2045.

Saat ini, UHO sudah menjalin kolaborasi penelitian dengan Jepang, Australia, Amerika, dan sejumlah negara Eropa. Mahasiswa UHO pun aktif mengikuti magang internasional dan beberapa mahasiswa asing telah belajar di UHO.

Per Januari 2024, UHO menempati peringkat 2.917 dunia dan ke-113 di Asia Tenggara berdasarkan The Webometrics Ranking of World Universities. Dengan 1.501 dosen dan hampir 40 ribu mahasiswa aktif, capaian ini menunjukkan daya saing internasional kampus terus meningkat.

Namun, tantangan tetap ada. Dana riset dari pemerintah pusat berkurang drastis sejak pandemi, dari sekitar Rp 14 miliar menjadi hanya Rp 2–3 miliar per tahun.