“Enggak harusnya tes lagi, langsung penempatan,” ujar Deni menegaskan.
Konsekuensi dari ikatan dinas tersebut adalah kesiapan para lulusan untuk ditempatkan di daerah mana pun sesuai kebutuhan organisasi. Penempatan bisa berada di stasiun-stasiun pengamatan cuaca, iklim, dan geofisika yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Hal ini menjadi bagian dari komitmen STMKG dalam menyiapkan tenaga profesional untuk mendukung layanan informasi kebencanaan, cuaca, dan iklim secara nasional.
Sejak awal proses pendidikan, para taruna juga sudah diarahkan untuk memilih program studi sesuai minat dan kebutuhan formasi. Deni menjelaskan, STMKG memiliki beberapa program studi utama yang masing-masing berperan penting dalam sistem kerja BMKG. Program Studi Meteorologi mempelajari fenomena cuaca, atmosfer, serta analisis cuaca jangka pendek yang dibutuhkan dalam layanan prakiraan harian.
Program Studi Klimatologi lebih fokus pada analisis jangka panjang yang berkaitan dengan iklim, perubahan iklim, pemanasan global, serta kimia atmosfer.
“Jadi lebih kepada climate, kemudian perubahan iklim, pemanasan global, kimia atmosfer itu di program studi klimatologi,” ujar Deni yang juga merupakan alumnus STMKG.
