Beban biaya tersebut semakin berat bagi mahasiswa yang berasal dari Tomia, Kaledupa, maupun Binongko karena masih harus melanjutkan perjalanan dengan speed boat antarpulau.
“Kalau naik kapal lain biayanya jauh lebih mahal. Dari Kendari ke Wangi-Wangi saja sudah Rp 150 ribu, belum lagi ke Tomia harus tambah ongkos speed boat,” ujar Sahrul, mahasiswa asal Tomia, Selasa (13/1/2025).
Hal serupa disampaikan Julina, mahasiswa asal Binongko. Menurutnya, ketiadaan Kapal Latih Barombong membuat mahasiswa dari pulau terluar harus mengeluarkan biaya berlipat hanya untuk pulang ke kampung halaman.
“Biasanya kapal ini paling kami tunggu saat libur semester. Sekarang terpaksa pakai kapal lain dan biayanya memberatkan. Sampai Binongko bisa habis ratusan ribu rupiah,” kata Julina.
Baca Juga: PT Landipo Niaga Raya Buka Lowongan SPV, Penempatan Kendari dan Kolaka
