Baca Juga: Laut Kaombo di Wabula, Warisan Kesultanan Buton yang Masih Dilestarikan

Bentuk makamnya berbentuk persegi panjang dengan orientasi makam utara-selatan, dari segi penguburannya sudah dapat dipastikan prosesi pemakamannya memakai syariat Islam.

Berdasarkan catatan yang diterima dari Kamalia Kadir, terdapat beberapa nilai sejarah penting makam kuno Sangia Dowo yakni dari segi sejarah perjuangan dan perlawananya terhadap kolonialisme Belanda.

Daerah Moronene (Rumbia dan Poleang) yang pada saat itu merupakan daerah kekuasaan Buton dimasuki  Belanda pada 1910. Mokole Poleang bersama para pengikutnya menentang kedatangan Belanda di daerahnya.

Dalam penyerangan ke Toburi (ibu kota Poleang), Belanda dapat dipukul mundur oleh pihak kerajaan. Kemudian Belanda mengajak Mokole untuk berunding di suatu tempat di luar ibu kota. Dalam jamuan makan, Mokole Poleang (Sangia Dowo) diracun oleh Belanda dan menemui ajalnya.