Dirinya menyadari bahwa peradaban Syiah di Mesir sudah berusia ratusan tahun.
Sehingga Sultan Shalahuddin secara perlahan merubah kurikulum ajaran Syiah, buku-buku dan simbol-simbol Syiah hingga ulama-ulama Syiah dari perguruan Al-Azhar seluruhnya diganti menjadi versi ahlus sunnah.
Selain itu, Sultan Shalahuddin tetap mempertahankan perayaan Maulid Nabi dan membersihkan perayaan-perayaan lain yang tak sesuai akidah ahlus sunnah.
Dalam hal ini ada proses kompromi beberapa teori hasil dari beberapa teori sejarah sebelumnya tanpa harus ada pertentangan. Maulid Nabi ini mulanya diadakan Dinasti Ubaid di Mesir.
Perayaan Maulid Nabi tersebut satu di antara sekian banyak perayaan yang dilakukan tak lebih untuk membangun citra dan juga mendapatkan dukungan rakyat Mesir. Sebab itu dilakukan secara terpaksa oleh Syiah Ubaidiyah yang sebelumnya dihancurkan oleh kaum Muslimin Tunisia.
