Dengan kedatangan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi menguasai Mesir ini merupakan berkah bagi kaum Muslimin. Shalahuddin berjuang keras agar haluan akidah rakyat Mesir kembali ke pangkuan ahlus sunnah, dengan pendekatan-pendekatan kultural.
Ketika itu pelaksanaan Maulid Nabi di Mesir mengundang ketertarikan Gubernur Irbil, Irak Muzhaffar Kukabri, hingga Sultan Shalahuddin menikahkan seorang laki-laki dengan saudara perempuannya Rabiah Khatun bintu Ayyub.
Kemudian kebutuhan peringatan Maulid Nabi ini pula dirasakan mendesak, ketika kaum Muslimin mengalami kelemahan dan kelelahan akibat perang terus-menerus menghadapi kaum Salibis Eropa.
Kala itu, Sultan Shalahuddin memanfaatkan momen peringatan Maulid Nabi untuk mengingatkan kembali para kaum Muslimin terhadap jejak-jejak sejarah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.
Sehingga, asal-usul peringatan Maulid Nabi dalam sejarah kaum Muslimiin sejak ribuan tahun lalu, berawal dari Dinasti Syiah Ubaidiyah kemudian diadaptasi ke dalam kultur Ahlus Sunnah wal Jamaah oleh Malik Muzaffar dan Sultan Shalahuddin. (C)
