Apalagi, saat ini diperkirakan masih ratusan perwira tinggi dan 400-an perwira menengah berpangkat kombes masih antre penempatan.

Bagi Sigit, Banten yang dijuluki “Bumi Beribu Ulama, Beribu Santri” memang punya catatan tersendiri terkait binmas. Di sini ia pernah ditolak melalui sejumlah demo hanya lantaran ia nonmuslim.

Tetapi, ia gigih bekerja lewat langkah-langkah yang strategis, dan akhirnya justru ia mendapat dukungan besar dari para pemuka agama serta berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas). Dua tahun berjalan baik dan efektif kepemimpinannya di Polda Banten.

Selanjutnya ia dipromosi menjadi kepala “polisinya polisi” --Kadiv Propam Polri. Maka, tak mengherankan bila segera setelah dilantik menjadi Kapolri, dia utamakan bersilaturahmi ke PB NU, PP Muhammadiyah, dan Rabithah Alawiyah (RA, organisasi yang mengurusi silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia).

Pada hari yang berbeda, usai meresmikan pembangunan rumah anggota Polri yang rusak akibat gempa di Mamuju, Sulbar, Kapolri melanjutkan bersilaturahmi dengan Ketua MUI Sulsel, Anre Gurutta (AGH) K.H. Sanusi Baco di kediamannya di Makassar, Sulsel. Selain itu, ia juga menyambangi “saudara tua”-nya, TNI serta sesama penegak hukum seperti Mahkamah Agung, KPK, dan Kejaksaan Agung.