Kampus itu dididirikan bertujuan untuk melahirkan sarjana muda yang berkualitas di Buton. Manarfa berperan sebagai rektor sekaligus dosen. Melatih setiap mahasiswa-mahasiswinya untuk menjadi pribadi yang tangguh. Ia menurunkan ilmu seni berpidato kepada anak didiknya, sama seperti dirinya dulu berbicara di hadapan banyak para pejabat dan petinggi negara.

Dikutip dari rilis.id, Manarfa yang menjadi rektor di universitas yang didirikannya, tidak pernah mau menerima gaji. Daftar penerimaan gaji memang dia teken, tetapi uang gajinya ia kembalikan ke kas universitas. Ia bertekad tidak akan menerima gaji sampai perguruan tinggi dan seluruh pegawainya sejahtera.

Tidak mengherankan, anak raja dan bangsawan Buton ini hidupnya sederhana. Ia bahkan tidak memiliki mobil. Mobil yang dia pergunakan adalah pinjaman dari putranya yang kasihan melihat sang ayah masih memiliki banyak kegiatan di usianya yang sudah sepuh.

Pada penghujung tahun 2002, Manarfa terserang stroke. Penerima dua penghargaan dari Universitas Haluoleo ini tergolek lemah.

Namun, semangat untuk mengabdi pada dunia pendidikan masih menyala pada dirinya.