Walaupun dengan penghasilan yang minim, mereka selalu berupaya untuk mencukupi kebutuhan, terlebih buat sekolah anak. Dedi selalu menanamkan prinsip pada dirinya, sebelum ia mendapat keuntungan ia tak akan pulang.
"Dulu memang saya dididik, jadi ketika saya belum dapat keuntungan yang walaupun hanya Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu saya tidak akan pulang, walaupun saya sakit, tapi alhamdulilah, selama ini ada-ada saja untung dan tidak merugi," tuturnya.
Dedi dan istri bisanya mulai mejual gorengan pukul 16.00 Wita hingga pukul 23.00 Wita, dibanderol dengan harga Rp 1000 per gorengan di Jalan H.E.A Mokodompit, area Universitas Halu Oleo (UHOG).
Baca Juga: Digitalisasi Perencanaan Kebutuhan SDM Kesehatan di Sulawesi Tenggara
Sejak tahun 2019, usaha gorenganya sudah ia jalani hingga bisa mencicil rumah tempat tinggal mereka, dan tidak lagi membayar kontrakan.
