Jusuf Kalla karena peran dan komunikasi kepada publik yang begitu intens, mengesankan Jusuf Kalla adalah “the real president”dan ada juga anggapan bahwa Jusuf Kalla saat itu tak ubahnya sebagai “super wapres,” inilah kesan yang hadir di publik ketika ia menjabat sebagai Wakil Presiden berdampingan dengan Presiden SBY.  

Jusuf Kalla yang merupakan politisi Partai Golkar bahkan Ketua Umum Partai Golkar. Pada masa SBY menunjukkan hubungan yang tidak harmonis, bahkan antara Partai Demokrat dan Partai Golkar menghadirkan bentuk kohabitasi, yakni realitas bahwa presiden dan wakil presiden berasal dari partai politik dan golongan yang berbeda. Selanjutnya, hubungan antara Jusuf Kalla dan SBY kala itu, berakhir dalam persaingan pada Pilpres 2009 silam.  

Hal ini yang sepertinya dipelajari dan dipahami oleh Presiden Jokowi. Sehingga, Jokowi lebih memilih mencari pasangan yang tidak akan menjadi pesaingnya di kemudian hari. Diawali ia memilih Jusuf Kalla untuk berpasangan pada Pilpres 2014 lalu, dengan didasari oleh habisnya kesempatan Jusuf Kalla untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada Pilpres berikutnya yakni pada tahun 2019.

Begitu juga, dengan pilihan terhadap Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden, dibandingkan saat itu untuk memilih berdasarkan keinginan kuat dari berbagai masukan utamanya juga di masyarakat bahwa agar Jokowi berpasangan dengan Mahfud MD.

Presiden Jokowi menunjukkan diri sebagai karakter presiden yang menginginkan wakil presiden adalah sebagai pendamping bukan sebagai pesaing. Apalagi didasari pengalaman, pemerintahannya sering dianggap bahwa Presiden dan Wakil Presiden tidak akur, pemerintahan terbelah, ini terjadi saat berpasangan dengan Jusuf Kalla lalu.