Pada sisi lain, pengembangan ‘komoditi lokal jalur bawah,’ tentu juga membutuhkan sentuhan khususnya dari pemerintah lokal. Karena ‘komoditi lokal jalur bawah’ dimiliki umumnya rakyat kecil yang sudah ada sejak dahulu kala dan diusahakan secara turun temurun. Namun yang unik hingga kini sepertinya belum ada formula yang tepat untuk mengatasinya, serta seakan belum diproritaskan sehingga mampu mengangkat taraf hidup petani dan pelaku bisnis.

Hal yang penting adalah bila dikaitkan dengan pandemi COVID-19. Mengingat pandemi COVID-19 yang belum akan berakhir, tampaknya dapat dijadikan ‘titik mulai’ pengembangan produk atau komoditi lokal ini, karena beberapa alasan:

Penurunan produktivitas komoditi diberbagai daerah dan negara yang disebabkan oleh pengurangan aktivitas orang guna menghindari atau mengurangi penularan COVID-19. Dampaknya adalah, melambatnya mobilitas perdagangan barang dan jasa baik antardaerah maupun antarnegara karena selain yang disebutkan di atas, juga disebabkan adanya prioritas daerah atau negara tersebut untuk mengutamakan pemenuhan kebutuhan sendiri dan adanya pembatasan-pembatasan.

Dari sisi kemudahan bahan baku, pengembangkan komoditi lokal khususnya tentu saja tidak terlalu sulit karena bahan baku tersebut tersedia di daerah itu sendiri. Yang dibutuhkan tentunya adalah penerapan teknologi yang tepat didukung kemampuan sumber daya manusia yang berkualitas serta adanya kemampuan membaca peluang dan memanfaatkannya dengan baik.

Ini yang penting, yakni membangun berdasarkan potensi sendiri. Apa saja yang bisa dibangun baik oleh negara atau daerah, perlu fokus pada pengembangan potensi yang dimiliki. Bila tidak maka sulit rasanya ada kemajuan. Apalagi yang dibangun adalah potensi wilayah atau negara lain.