Mesjid tua itu konon berdiri pada 1716 masehi yang merupakan peninggalan Kerajaan Wuna. Mesjid itu merupakan salah satu wisata religi yang memiliki nilai sakral.

Baca Juga: Kolaka Utara Sumbang 7 Hektare Lahan Demi Sekolah Rakyat Prabowo

Mesjid itu hanya digunakan untuk salat Jumat, idhul fitri, adhul adha dan peringatan maulid Nabi Muhamad.

Untuk salat Jumat, tata cara penyelenggaraannya masih mempertahankan tradisi turun temurun zaman Kerajaan Wuna. Adzan dikumandangkan oleh empat muadzin. Khotbah secara keseluruhan masih berlafazkan bahasa arab.

Pembacaan khotbah Jumat, diawali dengan penyerahan tongkat yang terbuat dari perak, yang dikenal Katuko Salaka dalam bahasa lokal atau bahasa Muna. Tongkat tersebut diserahkan oleh imam besar (modhi bhalano) kepada khatib. (B)