JAKARTA, TELISIK.ID - Gelombang protes terhadap keputusan Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda) Sulawesi Tenggara (Sultra), untuk mengijinkan ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Konawe, Sultra terus meluas ke berbagai titik.
Aksi protes dan pemblokiran jalan dilakukan oleh elemen masyarakat dan mahasiswa terjadi di perbatasan Konawe Selatan-Kota Kendari dan juga terjadi di Bandara Haluoleo. Aksi protes tersebut dilakukan akibat sikap acuh pemerintah atas permintaan masyarakat.
Pengamat Sosial Yayat R Cipasang menuturkan, aksi protes masyarakat berupa unjuk rasa adalah hal yang biasa dan itu sah-sah saja ketika tidak ada respon dari pemangku kekuasaan di bangsa ini.
Saat ini, kata Yayat Cipasang, jutaan masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan akibat mewabahnya pandemi COVID-19, dan pemerintah dengan gampang memasukan pekerja kasar dari negara luar.
"Unjuk rasa tak bisa dihindari dan itu sah-sah saja. Saya kira pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus sensitif, karena ini soal masyarakat Indonesia yang terluka. Ketika begitu banyak pengangguran di dalam negeri yang tidak terserap dunia kerja terutama setelah Corona, masyarakat terluka," kata Yayat Cipasang kepada Telisik.id saat dihubungi di Jakarta, Selasa (23/6/2020).
