Juga bagaimana pandangan kritis Partai Golkar terhadap kepemimpinan Jokowi (walaupun Golkar partai pendukung) tetap dibutuhkan karena posisi Airlangga Hartanto saat menyampaikan pidato politiknya bukan sebagai bawahan Jokowi, tapi sebagai ketua partai karena itulah esensi dari 'mata kebijaksanaan'.
Padahal, momentum ini sangat tepat digunakan oleh Airlangga Hartanto dalam menaikan elektabilitasnya sebagai calon presiden yang diusung oleh Partai Golkar, dan juga dapat menaikan elektabilitas partai di mata publik, yang melihat sosok Airlangga Hartanto sebagai sosok yang tegas, bersemangat dan mampu memposisikan dirinya sebagai seorang petarung.
Saat membakar semangat para kader Golkar langsung direspon dengan lebih bersemangat. Sama yang diinginkan oleh Airlangga Hartanto satu taktik...satu kata...satu tekad kemenangan Golkar di semua hajatan demokrasi di tahun 2024.
Syarat pertama untuk menjadi presiden telah dimiliki oleh Airlangga Hartanto sebagai figur Partai Golkar, karena secara umum ketika seseorang ditanya mengapa mendukung seorang calon tersebut maka biasanya jawaban yang seragam adalah ketokohan/figur.
Faktor figur memang penting, namun mesti diringi dengan loyalitas dan sejauh mana figur tersebut bisa memberikan kontribusi bagi komunitas tertentu. Ketokohan adalah faktor paling penting. Ketokohan tersebut bersinergi dengan popularitas.
