Untuk itu Golkar tetap harus membangun komunikasi dengan partai lain dalam menawarkan calon presiden yang didukung dan jangan menjadi calon yang ekslusif. Alasannya adalah partai memiliki struktur hingga tingkatan kecamatan dan desa dengan kondisi itu berpotensi besar untuk menjaring pemilih.

Merawat jejaring secara intensif harus dilakukan, baik menggunakan jaringan dengan lembaga formal, non formal untuk mendulang suara. Sementara untuk konstituen mereka kerap menjalin hubungan dengan silaturahmi, baik sebelum dan menjelang Pemilu, dan juga kerap membiayai perhelatan yang dilaksanakan oleh konstituen menyatakan, “apa yang dibutuhkan masyarakat itu yang kita berikan”.

Hanya dengan cara inilah para kader Golkar dan para calegnya bisa mengikat suara konstituennya ketika terjadi Pileg yang bersamaan dengan pemilihan presiden seperti 2019,  dimana Golkar sebagai pemenang kedua dan mampu mencapai 85 kursi di DPR RI.

Selama ini, untuk daerah yang merupakan basis, para petarung dan tim suksesnya akan sangat diperhatikan. Sebagian besar petarung tidak hanya menjelang Pemilu saja menjalin hubungan intensif terutama mengandalkan pemberian bantuan dan materi secara rutin.

Sedangkan untuk daerah non-basis biasanya mereka menjajaki melalui tokoh setempat. Sekiranya ada peluang maka mereka akan berupaya untuk “merengsek” masuk ke wilayah non-basis yang saat ini lebih mengandalkan wajah patronase.