“Nanti yang melayani tetap SPPG, sementara yang mengantar nanti dari Pokmas atau dari caregiver,” jelas Saifullah Yusuf.

Sasaran program ini adalah lansia dan penyandang disabilitas yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN, khususnya kelompok desil satu hingga lima. Prioritas diberikan kepada lansia rentan serta penyandang disabilitas berat yang memiliki keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari, sehingga membutuhkan dukungan pemenuhan gizi secara langsung dan berkelanjutan.

Saifullah Yusuf juga menyampaikan apresiasi atas peran BGN dalam penyusunan konsep tersebut. “Terima kasih Prof Dadan, selama ini telah membimbing kami untuk menyusun satu konsep, sehingga ini sudah terintegrasi dengan MBG secara menyeluruh,” katanya.

Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana menilai sinergi antarlembaga ini akan mempermudah jangkauan layanan bagi kelompok rentan. Menurutnya, keberadaan jaringan SPPG menjadi faktor penting dalam efektivitas distribusi.

“Saya kira apa yang sebenarnya jadi tugas Mensos selama ini dengan hadirnya SPPG di setiap wilayah itu akan dipermudah, karena SPPG ada di setiap wilayah di Indonesia di radius rata-rata 4 Km,” ujarnya.