Di antaranya, pertama, memaafkan dapat mengurangi beban hidup. Seringkali, rasa sakit yang kita terima dari orang lain tidak berkaitan langsung dengan tujuan atau bagian penting hidup kita.

Bila memilih untuk selalu mengungkit-ungkitnya, berarti kita menjadikan sesuatu yang tidak penting sebagai masalah serius dan beban bagi hidup kita. Padahal, dalam perkara yang sangat prinsipil sekalipun, Nabi SAW tetap mau memaafkan, sehingga tidak menjadi beban baru bagi dakwah dan hidup beliau. Ketika orang-orang Thaif merespons dakwah beliau dengan tindakan yang sangat kasar, Rasulullah SAW memilih untuk memaafkan.

Beliau tidak hanya melupakan perlakuan kasar mereka, malah membalasnya dengan untaian doa: ''Ya Allah, berilah hidayah kepada mereka. Sesungguhnya mereka mengasariku hanya karena mereka tidak tahu.''

Kedua, memaafkan adalah pangkal kemuliaan. Sebab, hanya orang yang mulia dan berjiwa besar yang bisa dengan lapang melebur kesalahan orang lain. Dan Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakan kebajikan setiap hamba-Nya.

Dia akan membalas kelapangan orang yang mau membuka pintu maafnya dengan limpahan kemuliaan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: ''Allah akan membalas orang yang mau memaafkan (orang lain) dengan menambah kemuliaannya.''