Bahkan, Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum dan Ikon PDIP, malah menunjukkan sikap negarawan sejati. Megawati diyakini memang jengkel tetapi tak bereaksi keras terhadap sikap Jokowi dan Gibran.

Megawati seakan menyampaikan pesan kepada publik bahwa ia telah memaafkan, membiarkan saja, tetapi tidak melupakan “dansa politik” dari Jokowi dan Gibran.  

Ini menghadirkan persepsi di Publik bahwa di tubuh PDIP yang bereaksi dengan susah move on terhadap perilaku Jokowi maupun Gibran bukanlah para elite-elite papan atas dari kandang banteng moncong putih, melainkan sekadar elite papan tengah saja yang mungkin saja sedang mencari sensasi agar terpilih kembali di Senayan.

Sehingga, usul hak angket oleh PDIP untuk meninjau perilaku Presiden dari PDIP sendiri, memungkinkan hak angket sekadar ngotot diawal, kemudian kehilangan tenaganya ditengah perjuangan, dan/atau malah kisah akhirnya memungkinkan menggantung. Tetapi bagi PDIP, setidaknya sudah membuat nama Presiden Jokowi dan Gibran memperoleh sentimen negatif dan citra negatif. (*)