JK ingin mengingatkan publik, utamanya ditujukan kepada Jokowi dan barisan pendukungnya akan jasa besarnya. Keberhasilan Jokowi sebagai Gubernur maupun Presiden tidak semata hasil kerja personal Jokowi saat kampanye misalnya. Melainkan juga hasil kerja dari dukungan dan jaringan yang difasilitasi serta dibangun oleh JK.  

Jokowi telah mengakui pada Mei 2014 silam. Ia menyatakan kepada publik bahwa JK sebagai salah seorang yang berjasa membawanya ke Jakarta dari Solo. Ini menunjukkan tanpa “jerih payah” JK, berupa nasehat dan/atau saran JK, memungkinkan Jokowi kecil peluangnya diajukan oleh Megawati Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai calon presiden (capres).  

Ketika itu, Jokowi kurang begitu diperhitungkan meski elektabilitasnya tinggi. Peluang Puan Maharani saat itu, memang begitu tinggi untuk diusung oleh PDIP. Kenyataan saat itu, Megawati bersedia tidak dimajukan kembali dan menimbang mengajukan Puan untuk mengambil momentum sebagai capres.  

Elite-elite PDIP saat itu, juga meragukan Jokowi, selain dari “deso”, Jokowi juga bukan elite politik PDIP yang sudah wara-wiri di level nasional. Kecuali, keberhasilan Jokowi dalam memimpin Solo semata yang dianggap punya nilai, sedangkan di Jakarta juga belum selesai tugasnya artinya prestasinya masih minim.

Lalu, ia akan menempuh jalan instan membidik kursi Presiden, rasanya terlalu cepat dan potensi menangnya juga diragukan, ini yang menghinggapi benak pikir di internal PDIP. Di sisi lain, Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) tahun 2014 adalah momentumnya Puan Maharani untuk sebagai capres dari PDIP, maupun sebagai cawapres bersama Prabowo Subianto dalam kesempatan mewujudkan Perjanjian Batu Tulis, misalnya.