Pernyataan JK memang menunjukkan akan akumulasi kekecewaan, sehingga tampak emosionalnya JK. JK dapat saja dipersepsikan seolah mengabaikan kedaulatan pemilih dengan membangun patronase jasa elite. Meski begitu dalam meredakan tensi politik, Jokowi dan Gibran mencoba untuk menghormati JK, meski dengan ungkapan pesan tersurat satir sekalipun.
Seperti Jokowi mengatakan bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan hanya orang kampung, dalam menanggapi emosional JK mengungkit perannya dibalik keberhasilan Jokowi sebagai pemimpin negeri ini. Sikap bersahaja namun juga satir, coba disampaikan oleh Gibran sebagai wakil presiden dan anak Sulung Jokowi dengan menyatakan, Pak JK itu senior saya. Pak JK itu mentor juga. Beliau sudah sangat berpengalaman. Beliau banyak kiprah dan kontribusinya untuk negeri ini, terutama di daerah-daerah konflik.
Sayangnya, komunikasi bersahaja (meski Satir didalamnya) tidak merembes ke barisan pendukung Jokowi. Meski begitu, pelajaran berharga dari pernyataan JK, secara tersurat bahwa semestinya barisan pendukung Jokowi juga menghormati para politisi senior yang telah berjasa membangun negeri ini. Harus diakui, baik JK dan Jokowi telah berjasa bagi negeri ini. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
