Kondisi gizi anak-anak Indonesia saat ini menghadapi masalah dasar yang sangat kompleks, sistemik, dan dikenal sebagai triple burden of malnutrition (tiga beban masalah gizi). Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih berada di angka 21,5%, sedangkan angka wasting (kurus) mencapai 8,5%.
Di kutub yang berbeda, angka kelebihan gizi, kegemukan, dan obesitas anak terus meningkat, angka overweight pada balita naik dari 3,5% (2022) menjadi 4,2% (2023) menurut SKI 2023, akibat maraknya konsumsi pangan olahan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) serta produk ultra-proses. Beban ini kian berat dengan adanya hidden hunger atau kekurangan zat gizi mikro, terutama anemia defisiensi besi yang dialami oleh 18% remaja putri usia 15–24 tahun (SKI 2023).
Anemia pada remaja putri bukan hanya merusak imunitas dan konsentrasi belajar, tetapi juga menjadi bom waktu yang memicu kelahiran bayi prematur serta Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) saat mereka menjadi ibu kelak.
Kesulitan mendasar pemerintah sering kali bukan pada penetapan jargon politik, melainkan pada pemilihan jenis intervensi kebijakan.
Baca Juga: Rendahnya Realisasi Belanja APBD Pemda se-Sulawesi Tenggara Harus Jadi Alarm Bersama
