Ini menunjukkan kekuasaan dan wewenang Prabowo masih berlegitimasi. Publik juga masih yakin goncangan kondisi ekonomi saat ini dapat dilalui dengan mulus oleh Pemerintahan Prabowo. Sehingga munculnya narasi kudeta akan salah alamat jika dipersepsikan dari sikap kritis para pengamat dan akademisi. Telah disampaikan dengan tegas bahwa mereka para pengamat hanya fokus terhadap mengkritisi dinamika politik pemerintahan terhadap rakyatnya.
Ketika nada mereka terkesan akan melakukan peralihan wewenang secara paksa, jika dicermati, para pengamat dan akademisi itu sedang gelisah disebabkan Presiden Prabowo tidak menyadari gangguan yang terjadi dikarenakan para pembantu presiden yang tidak berkinerja optimal dan memuaskan.
Banyak para pembantu presiden ketika kinerjanya tidak optimal, malah menyampaikan laporan dengan karakter yakni pertama, model ke pimpinan dengan karakteristik “ABS” alias asal bapak senang. Sekaligus dibungkus, komunikasi politik agar Presiden Prabowo tidak menyalahkan mereka maka diberikanlah pernyataan dibalut sugesti, bahwa kondisi saat ini baik-baik saja hanya saja di luar para pengamat merecoki sehingga terkesan negara sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, pembungkusan nada ekstrem adalah adanya upaya kudeta terhadap Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo harus diakui saat ini, sedang mengalami pengkondisian “penyempitan informasi”, sehingga ia tidak benar-benar memahami kondisi rakyatnya. Akhirnya, diksi-diksi Prabowo dalam berbagai pidatonya, mengesankan ia lelah telah melakukan kinerja optimal untuk kepentingan rakyat tetapi ternyata “direcoki” oleh para pengamat yang tidak patriotik.
Ketika diksi kudeta disampaikan oleh Hashim, perlu dicermati bahwa pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai alarm politik, sekali lagi alarm politik. Namun, publik tidak seharusnya langsung menganggapnya sebagai fakta, sebab belum diuraikan dengan bukti-bukti yang jelas.
