Kemudian persoalan kedua yang menjadi perhatian serius adalah penguatan karakter generasi muda. Abdul Mu’ti menyoroti fenomena generasi stroberi, generasi yang kuat secara fisik namun rentan secara mental dan spiritual.

Ia mengungkapkan meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan Generasi Z, termasuk perundungan digital, ketergantungan gawai, hingga tingginya angka bunuh diri. Menurutnya, banyak kekerasan sosial berawal dari ruang digital.

“Kesehatan mental kini menjadi persoalan serius dunia. Banyak anak-anak kita rapuh karena tidak memiliki ketahanan mental dan lingkungan belajar yang aman,” tegasnya.

Abdul Mu’ti juga menyinggung dampak negatif teknologi digital dan gim daring. Meski mengakui teknologi memiliki manfaat besar, ia menilai perlu ada regulasi dan pengawasan ketat apabila dampak mudaratnya lebih dominan.

“Kalau mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, maka harus dievaluasi secara serius,” ujarnya.