Baca juga: Kisah Pak Bin, Tukang Pijat Keliling Jakarta yang 3 Kali Naik Haji

Namun belakangan diketahui, kisah La Bolontio adalah cerita fiktif atau sejarah yang tak pernah ada sepanjang masa pemerintahan kerajaan berlangsung. Nama La Bolontio muncul hanya untuk memuluskan La Kilaponto menjadi raja di Buton. Bagaimana tidak, La Kilaponto atau Sultan Murhum bukanlah seorang putra mahkota. Sementara pada masa kerajaan, Buton masih menganut sistem monarki absolut atau kepemimpinan mutlak berdasarkan turunan.

Kisah ini diungkap oleh tokoh masyarakat Kepton yang juga pemerhati budaya Buton, Samsu Umar Abdul Samiun. Kata dia, pengangkatan Murhum sebagai raja pengganti La Molae mendapat penolakan dari para putra mahkota.

"Sehingga dibuatkanlah rekayasa cerita. Cerita itu adalah kisah La Bolontio. La Bolontio ini cerita fiktif atau tidak pernah ada. Sebab untuk memasukkan Murhum sebagai raja, La Molae (raja Buton kelima) harus menabrak sistem yang sudah ada," tutur Umar Samiun pada salah satu kegiatan ritual adat belum lama ini.

Berdasarkan silsilah, lanjut dia, Murhum merupakan cicit dari raja ke tiga Buton, Bataraguru. Bataraguru memiliki dua orang istri. Dari istri pertama melahirkan tiga orang anak yakni Raja Manguntu, Tua Maruju dan Tua Rade. Tua Rade yang merupakan bungsu dari Bataraguru kemudian menggantikan ayahnya Bataraguru sebagai Raja keempat di Buton. Sedang dari istri kedua atau selirnya menurunkan seorang anak bernama Kiy Jula.