"Raja Molae kemudian mengambil dan mengasuh Murhum sejak kecil. Artinya, La Molae sudah lebih dulu memastikan pewaris tahtanya nanti adalah Murhum," ungkapnya.

Berbeda dengan peneliti sejarah Buton, La Ode Yusri. Dimana menurutnya, terpilihnya La Kilaponto menggantikan Raja La Molae sebagai Raja keenam Buton merupakan sebuah kudeta senyap paling mula di Buton.

Baca juga: Pesta Kampung Waoleona, Jejak Perlawanan Sultan Himayatuddin terhadap Kesultanan Buton

Kendati begitu, ia juga mengakui bila kisah La Bolontio adalah sejarah fiktif atau rekaan istana untuk kepentingan La Kilaponto menjadi penguasa di Buton.

"Untuk menggali sejarah itu kita harus ketahui dulu siapa sebenarnya La Kilaponto ini, mengapa harus dia yang menggantikan La Molae. Padahal dia bukan putra mahkota. Saat itu, Buton masih menggunakan sistem menganut turun temurun. Sehingga seharusnya tahta itu dilanjutkan oleh anak, kemenakan, paman atau sepupu. Artinya, yang akan jadi pemimpin ini harus mempunyai kedekatan genelogi dengan pemimpin sebelumnya," tutur La Yusrie sapaan akrab La Ode Yusri.