Berdasarkan aturan kerajaan, lanjut dia, yang paling berhak menggantikan raja La Molae saat itu adalah anak Raja Manguntu yang tidak lain adalah kemenakannya, La Kasituri. Namun seketika tahta itu direbut oleh seorang yang tak memiliki hak dalam urusan kekuasaan, yakni La Kilaponto yang tidak lain adalah cucu dari Kiy Jula atau anak bataraguru dari istri selirnya.
Namun, kata dia, konflik itu sudah terjadi sejak raja ketiga Buton, Bataraguru masih berkuasa. Kedua anaknya yakni raja Manguntu dan Tua Maruju diam-diam berseteru rebut kuasa menggantikan ayahnya.
Menyadari akan hal itu, Raja Bataraguru kemudian mengangkat anak bungsunya, Tua Rade untuk menggantikan dirinya. Selain itu, pengangkatan Si Bungsu itu juga merupakan jalan tengah guna menghindari perseteruan berkepanjangan.
"Sedangkan kedua anaknya yang berseteru itu diangkat menjadi penasehat. Pesannya agar membimbing adiknya sehingga tidak salah jalan," tambahnya.
Tak terima dengan itu, Raja Manguntu dan Tua Maruju keluar dari istana. Raja Manguntu pergi ke Busoa dan kemudian menjadi raja di Batauga. Sedangkan Tua Maruju pergi Todanga dan juga menjadi raja Todanga.
