Polemik kepemimpinan penerus tahta untuk menggantikan Raja keempat, Tua Rade kembali terjadi. Dalam rumah tangganya, Tua Rade tidak memiliki anak atau putra mahkota untuk menggantikan dirinya sebagai raja keenam. Karena tak dikaruniai anak, Tua Rade menunjuk kemenakannya yang tidak lain anak Tua Maruju, yakni La Molae atau Sangia I gola.
Sementara itu, anak Raja Manguntu yang digadang-gadang juga akan melanjutkan tahta Tua Rade, La Katituri harus kecewa dengan keputusan itu.
"Akhirnya yang terjadi adalah keduanya keluar. Tapi setelah La Molae menjadi raja anaknya kembali ke kerajaan. Tujuannya adalah rekonsiliasi," ungkapnya.
Namun, lanjut dia, Raja Manguntu yang terlalu kecewa masih belum menerima tawaran itu. Ketika Tua Maruju mengejar dia ke Batauga, Raja Manguntu meninggalkan Batauga menuju Ponto, Mawasangka yang saat ini Kabupaten Buton Tengah. Di Ponto ini La Kilaponto sempat menjadi Raja.
Raja Manguntu datang sebelum masa kepemimpinan kakek La Kilaponto, Sugi La Ende. Karena sudah tersisih dari kerajaan Buton dan tak punya pilihan lain, Raja Manguntu kemudian membangun kekuatan dengan berkoalisi bersama Kerajaan Muna.
