Dalam pergeseran orangnya, ternyata Presiden Prabowo tidak sekadar menggunakan pola “orang keluar dan orang baru masuk”, tetapi juga memindahkan figur yang sudah berada di lingkar pemerintahan ke posisi yang dinilai lebih strategis.
Bahkan, mengambil orang-orang tua yang tak dimungkiri adalah tokoh-tokoh yang berpengaruh untuk bekerja di wantimpres, seperti Hatta Rajasa, Said Agil Siradj, Agum Gumelar, Yahya Cholil Staquf, dan orang-orang yang kontroversial bagi Publik seperti Rocky Gerung, dan Anwar Usman. Pilihan ini menghadirkan kritik di masyarakat bahwa wantimpres adalah untuk mengakomodir orang-orang tua, seolah wantimpres seperti pameran dari “mobil tua nan antik.”
Kemudian, dalam reshuffle mencuatnya nama Bahlil, misalnya, ia mendapatkan posisi untuk mengoordinasikan agenda hilirisasi dan transisi energi sekaligus dirangkap dengan pengelolaan di kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang telah dipegangnya sejak lama.
Padahal, nama Bahlil, tidak dimungkiri membangkitkan sentimen negatif publik, seperti Kenapa Mesti Bahlil yang dipercaya memegang posisi strategis tersebut? Dan, Mengapa pula Bahlil merangkap jabatan? dan seterusnya. Sedangkan Sugiono, “diselamatkan” dari persepsi negatif publik atas hasil kinerjanya yang kurang optimal, kemudian dirotasi ke sektor pembangunan manusia dan kebudayaan menggeser posisi dari Pratikno.
Selanjutnya, posisi Menteri Luar Negeri (Menlu) dipercayakan kepada Arrmanatha Nasir, ia naik level dari wakil menteri luar negeri (Wamenlu) menjadi Menlu, ditengaarai didasari oleh pengalamannya, ini menunjukkan kebutuhan akan penguatan unsur profesional dan pengalaman diplomasi.
