PSI malah terjebak dengan cara instan menampung “eks kader” dari partai-partai politik lain, tetapi melupakan membangun basis ideologi dan pendidikan politik dengan kaderisasi. PSI yang awal kehadirannya menjanjikan dengan memilih pendekatan kepada anak muda dan mencoba menggulirkan gagasan sebagai partai modern.
Ternyata PSI memilih meninggalkan citra “partai wangi”, demi kepentingan instan, tepat tahun ketiga PSI mengikuti Pemilu, partai ini memberikan “karpet merah” kepada Jokowi dan keluarganya. Kehadiran Kaesang sebagai Ketua Umum PSI, padahal Kaesang bukan kader, itulah awal dari PSI kehilangan identitas.
Baca Juga: Dukung Prabowo Dua Periode, Tidak Bersama Gibran
Bahkan, PSI akhirnya memilih mengkultuskan Jokowi, karena kekhawatiran PSI tenggelam lebih cepat. PSI berharap “tuah” Jokowi untuk secepat kilat mengangkat PSI dari partai gurem menjadi partai tengah, ternyata hanya ilusi.
Sikap pragmatisme PSI semakin tinggi, ketika PSI lebih memilih “membajak” kader-kader dari partai lain ketimbang mengajak dan mendidik simpatisan dan anggotanya menjadi kader PSI.
