Jokowi juga berharap, ia diperhitungkan dengan memiliki pengaruh melalui partai PSI seperti Megawati, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Prabowo, upaya ini yang sedang dicoba kembali dengan PSI. Tetapi, apa berhasil? Jelas tidak mudah dan penuh tantangan.

Malah yang terjadi bahwa kehadiran Jokowi, sejatinya telah membuat Kaesang sebagai Ketua Umum PSI tidak punya kemandirian sebagai Ketua Umum, Kaesang juga pengaruhnya kepada kader dan publik malah menurun, Kaesang tidak lagi punya daya tarik besar, bahkan Kaesang kurang diperhitungkan oleh ketua-ketua umum partai lainnya. Kaesang telah “digendong” oleh Jokowi, tanpa diberikan kepercayaan untuk mandiri.

Jokowi jelas berbeda dengan ketiga figur tersebut, Megawati, SBY dan Prabowo membangun partai sejak kelahiran partai itu, mereka juga membangun fondasi ideologis dan jaringan yang relatif mapan. Jokowi membangun PSI dengan instan melalui pengaruh kekuasaannya saat menjadi Presiden antara tahun 2023-2024, lepas dari kekuasaan presiden, ternyata PSI masih seperti sekarang yakni tidak membesar, tidak berpengaruh, hanya meramaikan hitungan partai-partai politik di Indonesia.

Jokowi dapat dinilai bahwa figur yang tidak punya pengaruh besar dan pesona kharismatik yang tinggi, ia sekadar sosok usang dengan juga tingkat kejenuhan masyarakat yang tinggi terhadap perilaku politiknya.

PSI yang dinilai bisa tumbuh besar dengan konsep “partai super Tbk” dan dukungan penuh dirinya, nyatanya juga tak mendongkrak popularitas dan elektabilitas PSI, apalagi untuk diperhitungkan dalam kancah politik nasional.