KOLAKA UTARA, TELISIK.ID - Sebelum terbentuk jalan poros Trans Sulawesi yang membelah gunung, mayoritas masyarakat etnis Tolaki yang mendiami Lipu Patowonua (Kolaka Utara) sebagai penduduk pribumi, dulunya menjadikan sebagian pesisir pantai sebagai akses jalan yang menghubungkan satu perkampungan dengan perkampungan lainnya.
Agar mudah dilalui, masyarakat harus terlebih dahulu menunggu air laut surut. Setelah itu barulah mereka melakukan perjalanan dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya untuk mengunjungi sanak keluarga.
Bahkan konon katanya, terkadang orang tua dulu harus rela berjalan di tepi-tepi tebing atau berjalan dengan langkah kaki sedikit agak cepat untuk menghindari air pasang ketika mereka berada di tengah perjalanan.
Termasuk pesisir Pantai Tanjung Watulaki yang saat itu merupakan akses utama masyarakat yang bepergian dengan berjalan kaki dari daerah-daerah selatan menuju utara seperti Lasusua atau Lapai.
Bagaimana kisah keberadaan makam moyang etnis Tolaki di Tanjung Watulaki, yang beberapa hari ini menjadi gejolak dan memantik api demonstrasi oleh pihak Tamalaki Patowonua serta tokoh masyarakat Tolaki di Desa Lambai akibat ulah PT Riota Jaya Lestari, yang diduga mengobok-obok makam sakral tersebut untuk keperluan jetty?
