Menurut cerita Abidin, salah satu tokoh masyarakat Tolaki Desa Lambai kelahiran tahun 1955 (66) yang sempat ditemui Telisik.id saat aksi penutupan jetty PT Riota, Jumat (9/7/2021), keberadaan makam itu berawal ketika leluhur mereka, nenek Wende'pa (yang dimakamkan di Tanjung Watulaki), hendak menemui kerabatnya di Lasusua.
Untuk mewujudkan keinginan tersebut, ia berjalan kaki dari Abai (Lambai) menuju Lasusua menyusuri pesisir Pantai Lambai.
"Saat itu kondisi air laut sudah mulai pasang dan ombak besar, sehingga ketika sampai di Tanjung Watulaki nenek kami terjatuh dan terseret ombak dan hilang selama dua hari. Setelah dilakukan pencarian selama dua hari, akhirnya mayat nenek kami tersebut ditemukan mengapung di perairan Lambai tidak jauh dari bibir Pantai Tanjung Watulaki. Setelah itu kami bawa (dayung) mayatnya menuju Tanjung Watulaki. Karena akses jalan yang sulit dan kondisi mayat moyang kami sangat memprihatinkan, maka kami putuskan untuk dimakamkan di Tanjung Watulaki tidak jauh dari pohon kelapa tinggi itu," terang Abidin sambil menunjuk pohon kelapa yang berada di sekitar jetty PT Riota.
Karena jauh dari perkampungan, kenangnya, maka ketika dilakukan penguburan, jenazah tidak dikafani.
"Kami hanya memasukkan jasadnya ke dalam sarung kemudian kami ikat layaknya mengkafani jenazah, setelah itu kami makamkan. Tempat ini dulunya gunung dan masyarakat Tolaki tahu kisah dan sangat mensakralkan Tanjung Watulaki ini," bebernya.
