BAUBAU, TELISIK.ID - Gudang-gudang tua tak berpenghuni berjubelan, lapak yang menjual aneka kebutuhan, kapal-kapal kayu pun turut bertengger di sekitarnya. Itu adalah Jembatan Batu yang terletak di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. dengan keriuhan yang padatnya bukan main sejak dulu kala.
Tak banyak yang tau bahwa di sela-sela semua itu, di antara yang tak lekang oleh waktu, ada Wa Titi, perempuan paruh baya berusia 40 tahun, penenun terakhir di Jembatan Batu yang juga menolak punah.
Di sebuah rumah mungil bercat hijau pudar yang mulai terkelupas, ia hidup bersama keluarga kecilnya. Di sanalah ia menghabiskan separuh waktunya untuk menenun. Menggunakan peralatan sederhana peninggalan buyutnya.
Wa Titi mengaku, keterampilan menenun itu ia peroleh dari ibunya yang juga diperoleh dari neneknya, seperti halnya neneknya dari nenek buyutnya. Proses pewarisan pengetahuan ini sudah berlangsung turun temurun dalam keluarganya.
Baca: Kisah Bar Mencari Tuhan: Hindu ke Katolik Lalu Temukan Kedamaian di Islam
