Wa Titi sendiri mulai menekuni tenun saat berusia 12 tahun. Seluruh prosesnya ia kerjakan dengan cara manual. Baginya, menenun bukan hanya proses produksi karya semata,  tapi juga bagaimana ia tetap merawat kenangan dan menjaga tradisi keluarga.

Hasil tenun Wa Titi biasanya disetor kepada para pengepul di Keraton Buton untuk dijual lagi. Selembar kain biasa dihargai sekitar 250 ribu rupiah hingga 350 ribu rupiah.

Baca Juga: Kisah Soekarno Bersedia ke Rusia dengan Syarat Bisa Temukan Makam Imam Bukhari

Selain itu, Wa Titi juga kerap menerima pesanan langsung dari pembeli yang menyambangi kediamannya. Biasanya, mereka bebas memesan motif tenun yang diinginkan. Dalam sebulan, Wa Titi biasa menghasilkan sarung 5 lembar.

Penghasilan suaminya sebagai tukang bangunan yang tak seberapa, membuat Wa Titi sangat menggantungkan hidupnya pada hasil penjualan sarung-sarung itu.