Namun, kemungkinan dari wacana ini dirasa tidak akan terwujud sepenuhnya. Sebab, dinamika penentuan poros koalisi dan pasangan calon sangat dipengaruhi berbagai hal, seperti berdasarkan kesepakatan antara partai-partai politik, rekam jejak masing-masing calon, aspek kapabilitas, elektabilitas, popularitas, juga kemungkinan simulasi dari berbagai calon penantangnya, dan utamanya kemungkinan menangnya besar.  

Dengan waktu, masih sekitar setahun kurang, memang sebaiknya partai-partai lebih intens membangun komunikasi untuk mewujudkan koalisi. Namun diharapkan pasangan-pasangan calon yang hadir dan diajukan, benar-benar bisa memenuhi harapan masyarakat.

Jangan lagi, ketika pasangan calon yang dihadirkan di masyarakat adalah kesepakatan partai, tetapi yang dianggap bodoh dalam memilih sosok capres adalah pemilihnya atau masyarakatnya. Padahal sebaliknya, masyarakat hanya tinggal memilih dari calon yang telah diproses oleh partai politik. (*)