Komunikasi yang disampaikan Prabowo adalah menggunakan bahasa yang sederhana, tetapi menggambarkan sosok dirinya yang beretika. Prabowo menunjukkan sebagai menteri, ia adalah pembantunya Presiden.
Selama menjabat sebagai menteri, maka ia tak bisa sembarangan berperilaku dan mengeluarkan pendapatnya, ini adalah sikap santun dalam memaknai jabatan. Prabowo adalah sosok militer, ia juga memahami struktur hirarki, bahwa Presiden adalah pimpinan tertingginya. Pernyataan Prabowo adalah cermin dirinya yang mengerti etika dan memahami makna jabatan yang dia emban.
Prabowo juga sepertinya telah mempelajari dua kisah yang terjadi di dalam kekuasaan di kala PDI-P berkuasa. Kisah pertama, belum lama terjadi, ketika Jokowi mencopot Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI 2015-2019 yang memasuki usia pensiun pada Maret 2018 tetapi dicopot lebih cepat pada medio Desember 2017.
Disinyalir, pencopotan Gatot Nurmantyo agar memerosotkan peluang politiknya, sebab ia memiliki obsesi maju sebagai calon presiden, dengan lebih cepat dicopot jabatannya maka kesempatan Gatot untuk membangun kekuatan dan pengaruhnya dapat dilemahkan sejak awal, ternyata terbukti Gatot menjadi plesetan dari ‘gagal total.’
Kisah yang kedua, terjadi di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Tatkala Megawati memberikan kesempatan kepada calon menteri untuk maju sebagai calon presiden dan menanyakan niat mereka maju. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan tidak menyatakan niatnya dengan gamblang, bahkan terjadi perdebatan dalam ranah komunikasi dengan Taufik Kiemas dari PDI-P, Taufik menyatakan bahwa SBY adalah jenderal kanak-kanak.
