Prabowo Pantang Surut
Komunikasi yang disampaikan Prabowo juga sepintas sama dengan bahasa sederhana yang digunakan oleh Jokowi dulu. Ketika Jokowi sebagai gubernur ditanya mengenai keinginannya maju sebagai capres. Jokowi selalu berkelit dengan menunjukkan dirinya tak antusias.
Keputusan dirinya maju sebagai capres, dijelaskannya berada di tangan ketua umumnya Megawati Soekarnoputri, sehingga silahkan tanya ke Bu Mega, itulah Bahasa sehari-hari Jokowi ketika dirinya ditanya soal pencapresan.
Sekarang hal yang sama dilakukan oleh Prabowo, malah langsung kepada pimpinannya, bahwa majunya ia tergantung izin dari Presiden Jokowi. Berbeda dengan Jokowi kala itu yang melakukan tekanan semata kepada Megawati sebagai ketua umum dari partainya dengan melalui media massa, sedangkan Prabowo langsung berhadapan tatap muka.
Prabowo tentu saja menyadari elektabilitasnya tinggi dalam tiga besar berdasarkan berbagai survei. Tetapi, ia telah tiga kali mengalami kekalahan di Pilpres. Ia dipercaya sudah berhitung dengan matang, dalam merumuskan pilihan terakhirnya untuk maju sebagai calon presiden atau tidak maju tetapi berperan sebagai king maker, ataupun memilih kembali lagi sebagai calon wakil presiden seperti 2009 lalu saat berpasangan dengan calon dari PDI-P.
