Anna terharu dan meneteskan air mata saat menyampaikan testimoninya di hadapan Paus. Dia mengaku suasana batin itu muncul karena membayangkan perjuangannya dan teman-teman guru saat mengajar dari desa ke desa lainnya.

Kondisi itu, menurut Anna, kontras dengan situasi yang sedang dihadapi saat ini. Dia mengatakan banyaknya pemimpin kita yang justru lebih memilih gaya hidup hedonis daripada memikirkan anak-anak muda daerahnya.

“Saya mengingat pengalaman saya berkegiatan bersama tim Scholas di Afrika. Keadaan di sana sangat menyedihkan. Pengalaman edukasi ini benar-benar menjadi perjalanan terbaik untuk saya,” kata Anna.

Ketika berkegiatan di Afrika, Anna mengaku melihat langsung dampak dari politisi yang dianggapnya jahat terhadap rakyat miskin. Banyak anak terlantar dan tidak bisa sekolah, anak-anak perempuan dijual demi uang, dan eksploitasi anak muda.

“Dan masih banyak lagi suara derita orang susah yang tidak pernah didengarkan oleh pemimpin pemimpin kita,” tuturnya.