KENDARI, TELISIK.ID - Kemiskinan dan keterbatasan ekonomi menjadi pendorong utama bagi sebagian orang di Kendari untuk beralih profesi menjadi pemulung.
Alasan utamanya adalah sulitnya mencari pekerjaan formal dengan gaji yang layak, serta minimnya keterampilan dan pendidikan yang memadai.
Alhasil, tingginya volume sampah di Kota Kendari membuka peluang bagi para pemulung untuk mendapatkan penghasilan.
Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) menunjukkan bahwa rata-rata 270 ton sampah dibuang ke TPA Puuwatu setiap hari. Sampah-sampah ini kemudian dipilah dan dijual oleh para pemulung kepada pengepul.
Baca Juga: Kisah Nandar, Banting Tulang Jadi Kuli hingga Jual Siomay Demi Nafkahi Keluarga
