Dalam proses pembelajaran, murid terlebih dahulu mempelajari kuda-kuda, sikap tubuh, serta gerakan dasar menggunakan tangan kosong. Setelah menguasai teknik tersebut, mereka dapat melanjutkan latihan menggunakan senjata tradisional, seperti parang yang disebut kapulo, keris khas Muna atau lolabi, serta bendera yang dikenal dengan istilah tombi.

Namun, pembelajaran silat Muna tidak hanya menitikberatkan pada keterampilan fisik. Ada ketentuan adat yang harus dipahami sebelum seseorang diterima sebagai murid, salah satunya Kavioli.

“Silat Muna bukan sekadar teknik bertarung secara fisik. Di dalamnya ada aturan adat yang harus dihormati. Ada proses penerimaan murid sebelum seseorang belajar kepada guru silat,” jelasnya.

Selain menjadi bagian dari tradisi bela diri, silat Muna juga mengandung nilai filosofis yang berkaitan dengan identitas budaya masyarakat setempat. Salah satu nilai yang dikenal dalam tradisi ini adalah pobelo, yang dimaknai sebagai perlindungan terhadap rumah tangga.

Di tengah perubahan pola hidup masyarakat, generasi muda turut mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini. Salah satunya Marwa (20), perempuan asal Muna yang mulai belajar silat sejak berusia 10 tahun.