Setelah itu Bahlil melanjutkan pendidikan S1 di Jayapura yang saat itu untuk menyambung hidup ia bekerja mendorong gerobak pasar.
Saat berkuliah Bahlil dikenal sebagai aktivis HMI dan pernah menduduki jabatan Ketua Senat Mahasiswa disemester 5. Saat memasuki semester 6 ia sudah mulai berpikir untuk menghentikan kemiskinan yang dialami.
"Semester enam saya pernah busung lapar jadi penderitaan itu yang benar saya rasain. Saat itu saya mengatakan harus berhenti dengan kemiskinan dan jalannya adalah jadi pengusaha," kata Bahlil, dilansir Voffice.co.id.
Ketika selesai berkuliah tahun 2002, ia membangun satu perusahaan dengan temannya di Jakarta dan menjadi direktur diusia ke 25 tahun.
"Disitulah saya pertamakali pegang uang gede dengan gaji 35 juta dan kariyawan hampir 70 orang," ungkap Bahlil.
