Ia juga menjelaskan, proses pelantikan tersebut dimulai dengan menghias Batu Wolio (Batu Yigandangi) dengan kelambu, kemudian disusul dengan pemukulan gong dan gendang yang dibunyikan dari malam hingga pagi hari.
Di tempat tersebut telah disediakan beberapa perlengkapan, seperti air yang diisi dalam bambu bersama pucuk kelapa yang akan digunakan untuk memandikan calon sultan dan bedak yang diramu secara khusus dengan menggunakan 120 macam bahan alami.
Kemudian, setelah dimandikan dan diberi sepersalinan pakaian yang berisi sarung, ikat kepala dan baju, calon sultan harus mengikuti beberapa prosesi lagi sebelum akhirnya diberangkatkan menuju masjid untuk melakukan pelantikan, tepatnya di mihrab Imam dan selanjutnya mengucapkan sumpahnya di Batu Popaua.
Upacara pelantikan tersebut dilakukan di dua tempat dengan beberapa rangkaian prosesi masing-masing setelah melaksanakan ibadah salat Jumat. Selanjutnya ritual pelantikan akan dipimpin oleh seorang Siolimbona.
Dalam perjalanan menuju Batu Popaua, pengunjung akan disambut oleh pemandangan alam yang menakjubkan dan nuansa keasrian pulau Buton dengan gugusan Benteng Keraton. Begitu tiba di situs tersebut, mereka akan melihat batu Popaua yang telah dipagari.
