Menurut warga setempat, kasuami ini simbol dari persaudaran dan keakraban. Karena kasuami biasanya dihidangkan saat acara besar seperti penyambutan sanak saudara yang pulang ke kampung halaman maupun saat hajatan (syukuran). Hingga kini, kasuami masih menjadi makanan pokok dan umumnya disajikan bersama ikan parende (sop ikan khas buton), ataupun ikan bakar dan sayur kangkung dengan colo-colo (Sambal).

Dari segi bentuk dan warna, kasuami terdiri dari tiga jenis. Ada yang bentuknya kerucut seperti gunung atau tumpeng. Kasuami ini warnanya putih kekuning-kuningan. Ada juga yang berwarna hitam yang disebut huguhugu. Dan yang bentuknya lonjong dan padat, disebut kasuami pepe.

Salah seorang warga penjual Kasuami, Inar menuturkan, ia menjual kasuami setiap hari dengan harga Rp 7.000 per harinya, untuk hari ini ia menjual 35 buah kasuami,

"Belum cukup setengah hari kasuaminya sudah habis terjual," ucapnya.

Ia juga menjelaskan, ada beberapa jenis dari kasuami yaitu bentuk kerucut dengan warna putih kekuning-kuningan, ada yang warna hitam dan ada yang bentuknya lonjong. Ia menjelaskan, per harinya pendapatannya saat menjual kasuami bisa untuk menghidupi kehidupan sehari-hari keluarganya