Ritual ini dilakukan dengan menerbangkan layang-layang selama tujuh hari, dimana pada hari ketujuh, tali layang-layang diputus agar layang-layang bisa terbang menuju matahari. Selain sebagai alat spiritual, layang-layang juga digunakan untuk menjaga sawah dari serangan burung dan babi hutan.

Proses pembuatan layang-layang dari daun kolope yang sudah dikeringkan. Foto: Ist.

 

Kaghati Kolope, layang-layang tertua di dunia, terbuat dari bahan-bahan alami seperti daun kolope (ubi hutan), bambu rami, dan serat daun nenas. Pembuatan layang-layang ini tidak mengikuti ukuran tertentu, melainkan bergantung pada selera pembuatnya dan tujuan penggunaannya.

Baca Juga: Pesona Alam Kolaka Utara Bakal Dipamerkan September dalam Even Jelajah Wisata

Layang-layang ini memiliki berbagai bentuk yang umumnya dikenal oleh masyarakat setempat, seperti Bhangkura, Bhalampotu, dan Kasopa, dengan ukuran yang bisa mencapai 1,9 meter dan lebar 1,5 meter.