Menurut Siti, setelah rangkaian kunjungan selesai, mobil tersebut tidak dibawa kembali ke Jakarta oleh pihak Sekretariat Presiden. Kendaraan itu ditinggalkan dan dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai kenang-kenangan.
Pemerintah daerah kemudian menyerahkan mobil tersebut kepada Museum Provinsi Sultra untuk dijadikan koleksi bersejarah. Sebelum dipindahkan, kondisi mesin kendaraan sudah tidak dapat beroperasi sehingga mobil itu hanya dipertahankan sebagai benda koleksi.
Meski tidak lagi bisa berjalan, keaslian bagian bodi tetap dijaga. Pihak museum memastikan tidak ada penambahan pada bagian eksterior kendaraan tersebut.
“Walau sudah rusak, semua bodinya masih asli. Tidak ada yang ditambah-tambahkan, masih utuh semua,” kata Siti.
Untuk mempertahankan kondisi fisiknya, perawatan dilakukan secara berkala oleh petugas konservasi museum. Saat ini, tiga petugas, yakni Into, Agung, dan Hamsa, bertanggung jawab terhadap perawatan kendaraan tersebut. Petugas yang menangani koleksi dapat berganti setiap tahun.
