Di Inggris, uskup agung Theodore mendirikan sebuah sekolah di Canterbury pada akhir abad ke-7. Sekolah ini kemudian menjadi pusat pembelajaran ilmiah utama di Inggris Anglo-Saxon. Theodore sendiri berasal dari Tarsus di Asia Kecil tenggara, sebuah wilayah yang sekarang dikenal sebagai Turki tengah-selatan, dan pernah belajar di Konstantinopel.

Pengaruhnya di dunia pendidikan Inggris Anglo-Saxon menjadi bukti bahwa Eropa tidak sepenuhnya terputus dari dunia luar selama Zaman Kegelapan.

Meski begitu, perjalanan untuk memperoleh pendidikan dan pengetahuan bukanlah hal yang mudah pada masa itu. Orang-orang yang ingin belajar sering kali harus menempuh perjalanan jauh dan berbahaya. Bangsawan dan rakyat jelata sering melakukan ziarah ke Roma, dan bahkan lebih jauh lagi, demi menimba ilmu dan memperdalam keyakinan agama mereka. Namun, tidak semua pihak menyambut baik kedatangan para pelajar ini.

Ada catatan tentang keluhan seorang pengamat terhadap sebuah biara di kerajaan Charlemagne yang dijalankan oleh seorang kepala biara Inggris bernama Alcuin. Pengamat tersebut mencatat, "Ya Tuhan, bebaskan biara ini dari orang-orang Inggris yang datang mengerumuni rekan senegaranya seperti lebah yang kembali ke ratunya."

Penyangkalan terhadap keberadaan Zaman Kegelapan juga muncul di kalangan para sejarawan. Banyak dari mereka yang menolak pandangan Petrarch bahwa periode ini adalah masa kegelapan dalam bidang sastra dan pengetahuan.