Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa masa ini adalah periode di mana sastra dan seni justru didorong dan dihargai tinggi, terutama oleh kalangan atas dalam masyarakat Abad Pertengahan Awal. Pandangan ini semakin kuat pada masa Pencerahan abad ke-18, ketika banyak filsuf merasa dogma agama pada periode Abad Pertengahan tidak cocok dengan Zaman Logika yang baru.

Mereka memandang Abad Pertengahan sebagai periode yang kelam karena kurangnya catatan sejarah yang tersisa, serta dominasi peran agama yang terorganisir. Kondisi ini sangat kontras dengan periode yang lebih terang, yaitu zaman kuno dan Renaisans yang dianggap sebagai puncak kemajuan manusia.

Namun, pandangan ini juga mendapat kritik, terutama pada abad ke-20, ketika sejarawan mulai mengkaji kembali periode ini dan menemukan bahwa ada banyak hal yang layak diapresiasi dari Zaman Kegelapan.

Salah satu aspek yang sering diabaikan adalah peran penting gereja dalam mempertahankan dan menyebarkan pengetahuan. Meski tidak semua orang di Eropa melek huruf, para rohaniwan tetap berupaya keras untuk mengajarkan ilmu dan agama kepada masyarakat, bersumber dari wikipedia.org.

Banyak dari mereka yang menghabiskan hidupnya untuk menyalin dan memelihara manuskrip-manuskrip kuno, sehingga pengetahuan dari zaman klasik tidak hilang sepenuhnya. Bahkan, beberapa tokoh gereja menjadi intelektual terkemuka pada masanya, yang karyanya terus dibaca dan dipelajari hingga saat ini.