3. Pengambilan kembang atau kaalano kamba wuna. Dalam pelaksanan kari’a saat ini bunga yang digunakan dapat diganti dengan bunga-bunga lain yang aromanya wangi seperti bunga seroja. Menurut salah seorang pomantoto atau penunjuk arah dalam kari’a, Wa Malufini menjelaskan, pengambilan bunga dilakukan setelah pengambilan mayang pinang dan biasanya dilakukan sehari setelahnya.

“Pengambilan kembang ini juga dilakukan oleh orang yang ditunjuk khusus pihak keluarga dan kembang yang diambil harus memiliki bau harum. Sedangkan makna dari bunga itu sendiri disimbolkan sebagai perempuan,” ujarnya.

4. Mandi peserta kari’a. Peserta akan dimandikan dengan air yang dibacakan doa oleh imam. Wa Malufini menjelaskan, sebelum masuk ke dalam kamar, peserta harus dimandikan terlebih dahulu dengan air yang sudah dibagi menjadi dua tempat yaitu oe modaino yang diartikan sebagai menolak kejahatan yang dimandikan kepada para peserta kari’a dengan menghadap sebelah barat, dan oe metaano yaitu air yang telah dibacakan doa agar peserta diridhoi oleh Yang Maha Kuasa.

5. Baca haroa. Tradisi baca haroa ini oleh etnis Muna seringkali dilakukan saat acara-acara besar, bukan hanya saat kari’a ini. Tradisi haroa sebagai salah satu sarana untuk meminta/memohon pada Tuhan.

Imam La Ntolori mengatakan, harus baca haroa sebelum peserta kari’a diantar masuk ke dalam kamar oleh pomantoto.