6. Dimasukkan ke dalam kamar atau dalam bahasa Muna disebut Kafoluku. Peserta dimasukkan dalam tempat yang telah dikemas khusus yang disebut suo khusus bagi putri raja dan kamar songi untuk masyarakat biasa.
Wa Malufini menjelaskan, waktu dipingit di dalam kamar, tergantung kesepakatan dari yang punya hajat. Ada yang empat hari empat malam, ada juga yang dua hari dua malam bahkan ada yang hanya satu hari satu malam. Setelah para peserta kari’a masuk ke dalam kamar, kamar itu sudah dirapikan agar tidak ada cahaya yang bisa masuk dan telah disiapkan bantal serta kain putih.
Baca Juga: Pesta Adat Kasambu-Sambu, Tradisi Masyarakat Buton yang Tetap Lestari
“Kalau sudah mau dikasi masuk, kita dikait mi kita punya jari tangan oleh pomantoto lalu jalan menuju kamar. Tiba dalam kamar diatur arah dan posisi badan, biasanya posisi badan diarahkan menghadap kiblat dan itu tidak bisa kita balik badan suka-suka kita sendiri, katanya pamali. Nanti pomantoto yang balik baru bisa kita balik kita punya badan, makan hanya dikasih ketupat dan telur satu biji, saya 4 hari 4 malam dipingit dan diberikan wejangan untuk bekal masa depan ketika kita akan berumah tangga,” ujar Wa Daabe, salah seorang yang telah melaksanakan prosesi kari’a.
7. Perubahan posisi atau kabhansule. Pada tahap ini posisi anak perempuan yang dipingit diubah. Jika awalnya posisi kepala di sebelah barat, maka berubah menjadi di sebelah timur dengan posisi badan menyamping menindih kiri.
